Pemberontakan PKI tahun 1926-1927, 1948 dan 1965

Penulis Toto Gutomo, pada 13 Okt 2011



(Logo Partai Komunis Indonesia)


Lokasi, Waktu, Latar Belakang, dan Sikap Pemerintah
 Oleh: Toto Gutomo[1]


A.     Tahun 1926 – 1927
1.      Sumatera Barat
Masuknya pengaruh PKI ke Sumatera Barat tidak lepas dari peran serta pemuka agama Islam, Haji Datuk Batuah yang membawa dan menyebarkan paham komunis  di daerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang[2]. Oleh  masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155), yakni menggabungkan ajaran Islam dengan  ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis. Pada akhir 1923 didirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang.
Desember 1925 di Prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin. Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh PKI, diantaranya Budi Sucipto, Aliarcham, Sugono, Surat Hardjo, Martojo, jatim, Sukirno, Suwarno, Kusno dan lain-lainnya. Sedang Said Ali, pemimpin PKI cabang Sumatera Barat pada pertemuan ini hadir mewakili seluruh Sumatera. Kemudian diputuskan:
a.       Sejalan dangan Surat Edaran Komite Pusat PKI No.221[3] maka PKI cabang Sumatera Barat berusaha mengumpulkan senjata.
b.       Mengadakan aksi-aksi ilegal. Ini terutama dilakukan dalam bentuk membangun sel-sel PKI di derah-daerah pertanian dalam rangka memperkuat semangat perlawanan.
c.       Memperkuat propaganda di kalangan buruh-buruh tani.
Gelagat pemberontakan tercium Pemerintah kolonial Belanda kemudian segera melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin PKI dengan tuduhan hendak memberontak. Sekalipun para pemimpin PKI Sumatera Barat telah banyak yang ditangkap dan dipenjarakan, akan tetapi pada akhirnya pemberontakan tetap meletus juga, pendukung PKI akhirnya mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Banten, yang meletuskan pemberontakan pada pertengahan November 1926. Mereka menyerang kedudukan pemerintah. Selanjutnya di Tanjung Ampulu, pada tanggal 1 Januari 1927 terjadi pembakaran rumah milik para pegawai pemerintah Kolonial Belanda dan kaki tangannya. Di Padang Siberuk para pemberontak membunuh kepala nagari dan beberapa penduduk yang dianggap kaki tangan Belanda. Di Silungkang, markas besar kaum pemberontak, terjadi pembunuhan terhadap opsir-opsir Belanda dan beberapa orang guru agama serta tukang emas yang dianggap bekerja sama dengan Belanda.

2.      Jawa Barat (Kabupaten Lebak – Madiun)
Masuknya komunisme dikalangan masyarakat menggunakan Islam sebagai senjata propagandanya, pengertian komunis ditekankan sebagai usaha menentang  Belanda  dan  dipersamakan  dengan  perang  sabil.  Hal  tersebut kemudian dipertegas oleh Alimin dan Musso yang datang ke Pandeglang  sekitar tahun 1925. Di hadapan massa, kedua tokoh PKI ini menguraikan secara panjang lebar  soal-soal  perjuangan  bangsa  menghadapi  penjajahan  Belanda.  Dengan demikian,  dalam  usahanya  mendapatkan  dukungan  dari  rakyat  Banten,  para proganda  PKI  menghilangkan  pengertian  komunisme,  tetapi  kemudian  lebih mengedepankan  persamaan  perjuangan  antara  Islam  dan  PKI.  Oleh  karena  itu, para  ulama Banten  tidak menentang  kehadiran  PKI  di Banten  bahkan  di  antara para ulama itu kemudian ada yang menjadi pengurus PKI Cabang Banten. Selain itu dukungan juga datang dari golongan petani yang dijanjikan akan dibebaskan dari pajak kepal/perorangan  (hoofdgeld).
Dengan meningkatnya aktivitas PKI Banten, bulan Juli – September 1926, pemerintah  Hindia  Belanda  melakukan  penangkapan  terhadap beberapa  pemimpin  PKI  Banten.[4] Penahanan  ini mengakibatkan  pimpinan  PKI  berada  di  bawah  tangan  para  ulama  dan  jawara. Golongan  inilah  yang  kemudian  memimpin  para  petani  melancarkan pemberontakan  pada  bulan  November  1926.  Target  utama  pemberontakan  adalah kaum priyayi dan dipilih secara selektif (kaum  priyayi  bukan  asli Banten  dan  suka melakukan  kekerasan  kepada  rakyat) yang menjadi  sasaran  adalah mereka yang  telah dianggap mencemari nama  baik  Banten.  Sementara  orang  Cina  tidak  menjadi  sasaran  karena  ada indikasi  keterlibatan  secara  tidak  langsung  dalam  pemberontakan  tersebut[5].
Pada  tanggal  6  November  1926,  pecahlah  pemberontakan  PKI  yang ditandai dengan penyerbuan kota Labuan pada  tengah malam oleh  ratusan orang bersenjata. Pemerintah  Hindia  Belanda  segera  melakukan  tindakan  terhadap  para pemberontak.  Pada  tanggal  13  November  1926,  pemerintah  kolonial  telah melakukan penangkapan di berbagai tempat di Banten, di antaranya enam kali di Kabupaten  Lebak.  Sehari  kemudian,  pemberontakan  PKI  Banten  berhasil dipadamkan  oleh  pemerintah  kolonial  dan  sampai  bulan  Desember  1926, pemerintah  kolonial  masih  melakukan  penangkapan  kepada  para  pelaku pemberontakan. Para pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Boven Digul[6], dipenjaran dan atau dihukum mati.
Dengan dihancurkannya komunisme dan semakin tidak berdayanya Islam sebagai kekuatan politik, agaknya zaman bagi nasionalisme telah tiba dan lahirlah PNI pada 4 Juli 1927 dengan Sukarno sebagai Ketua.

B.     Tahun 1948
Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dawali dengan ketidakpuasan terhadap hasil persetujuan Renville yang dianggap merugikan pihak Indonesia, kabinet Amir Syarifuddin dijatuhkan pada 23 Januari 1948 dan menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta yang terkenal dengan Re-Ra[7]. Amir kemudian menjadi “golongan kiri” diluar pemerintahan republik memulai suatu usaha yang menimbulkan bencana untuk mendapatkan kembali kekuasaan. Februari 1948 berganti nama menjadi Front Demokrasi Rakyat dan mencela persetujuan Renville yang sebetulnya dirundingkan sendiri oleh pemerintahan Amir.
11 Agustus 1948 Musso (pemimpin PKI tahun 1920-an) tiba di Yogyakarta dari Unisoviet memberi kekuatan tersendiri ditubuh PKI, ditambah lagi partai-partai dalam tubuh FDR menyatakan bersatu dengan PKI. Pertengahan September pertempuran terjadi antara yang Pro-PKI dan Pro-pemerintah yang pada 17 September dapat dipukul mundur hingga mereka mundur ke Madiun yang kemudian begabung dengan satuan-satuan yang Pro-PKI lainnya. Puncak aksi PKI adalah pemberotakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis.[8]
Tanggapan pemerintah yang cepat dapat dilihat melalui kecaman pemberontak melalui radio oleh Sukarno dan menghimbau bangsa Indonesia bergabung bersama dirinya dan Hatta daripada dengan Musso dan rencananya membentuk pemerintahan gaya Soviet. Dihadapkan pada dua pilihan, banyak satuan militer yang pada dasarnya bersimpati kepada pihak anti-pemerintah meilih menjauhkan diri, begitu juga FDR di Banten dan Sumatera mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan gerakan Madiun.[9]
Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. pemberontak terus dipukul mundur, Aidit dan Lukman melarikan diri ke Cina dan Vietnam,  Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Pada 31 Oktober Musso tewas saat berupaya melarikan diri dari tahanan.[10] Dalam aksi pemberontakan dan penumpasan ini banyak sekali berjatuhan korban jiwa, baik dari kubu PKI maupun dari pemerintah.

C.     Tahun 1965
Doktrin Nasakom yang dikembangkan oleh Presiden Soekarno memberi keleluasaan PKI untuk memperluas pengaruh. Usaha PKI untuk mencari pengaruh didukung oleh kondisi ekonomi bangsa yang semakin memprihatinkan. Dengan adanya nasakomisasi tersebut, PKI menjadi salah satu kekuatan yang penting pada masa Demokrasi Terpimpin bersama Presiden Soekarno dan Angkatan Darat.[11]
Pada pertengahan tahun 1965, berita sakitnya Sukarno memanggil Aidit yang tengah melakukan perjalanan ke Cina untuk pulang sekaligus membawa ahli medis dari Cina. Melihat kondisi Sukarno, pada ahli menyimpulkan bahwa Sukarno akan segera meningggal atau mengalami kelumpuhan permanen. Disis lain terhembus bahwa ada “Dewan Jendral” yang hendak memberontak pemerintah berdasarkan bukti dari pernyataan-pernyataan Aidit dan dengan ditemukannya Telegram Gilchrist.[12] Kaitannya dengan pihak Inggris adalah bersangkut paut dengan persoalan Malaysia.
Usulan pembentukan angkatan kelimapun dilontarkan oleh pihak PKI yang menghendaki masyarakat dipersenjatai, meski hal ini menimbulkan konflik antara PKI dan Angkatan Darat yang dengan terpaksa, Jenderal Achmad Yani menyatakan bahwa Presiden berhak mengambil keputusan semacam itu, selain itu adapula serangan-serangan terbuka terhadap pada elite Angkatan Darat yang berkaitan dengan gaya hidup mereka yang penuh dengan kemewahan maupun dengan sikap-sikap reaksioner yang mereka tampilkan. Ditengah situasi yang demikian, tiba-tiba Sukarno jatuh sakit yang pada gilirannya memunculkan perkejolakan kekuasaan dan mendorong Aidit untuk lebih berjaga-jaga.
Angkatan Daratpun menyelenggarakan pertemuan-pertemuan secara teratur, meski isu tentang Dewan Jendral yang hendak menggulingkan pemerintah semaki merebak luas, hingga pada kritik PKI yang mencap mereka sebagai koruptor dan kapitalis birokrat.
Pada tanggal 30 September malam 1 Oktober 1965, ketegangan-ketegangan meletus karena terjadinya percobaan kudeta di Jakarta yang didalamnya terdapat skenario penculikan jenderal-jenderal yang berakhir dengan pembunuhan sadis. Tepat menjelang fajar Soeharto yang tidak masuk dalam daftar penculikan, pergi ke kostrad setelah mendengar berita tersebut dan langsung mengambil alih komando atas angkatan bersenjata dengan persetujuan jenderal-jenderal angkatan darat.
Paginya, pihak pemberontak mengumumkan melalui radio bahwa “Gerakan 30 September” adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak untuk melindungi Sukarno dari kudeta yang telah direncanakan oleh dewan jenderal yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat (CIA).

Referensi:

Buku:

Edman, Peter. 2005. Komunisme Ala Aidit. Center for Information Analysis

Falah, Miftahul. Tt. Pemberontakan Pki 1926 Di Kabupaten Lebak. Jurnal

Karso., Imran, A., dan Setiadi, Asep.  Pelajaran Sejarah Untuk SMTA Kelas 3. Bandung: Penerbit Angkasa

Nurhabsyah. 2004. Pemberontakan PKI Di Silungkung Tahun 1927. Jurnal Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Sumatera Utara

Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi

Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1994. Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang Aksi, dan Penumpasannya. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia

Sudiyo. 2003. Arus Perjuangan Pemuda Dari Masa Ke Masa. Jakarta: Rineka Cipta


Internet:
http://www.mitrafm.or.id/

http://www.sejarahkita.comoj.com/jenny17.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Madiun

http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia




[1] Mahasiswa Program S1 Pendidikan Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
[2] Suatu lembaga pendidikan yang  dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat, dimana haji Batuah  merupakan salah seorang pengajarnya (Nurhabsyah, 2004).
[3] berisi perintah kepada cabang Padang supaya mengumpulkan uang derma yang dimaksudkan untuk membeli persenjataan yang akan digunakan untuk melakukan aksi pemberontakan
[4] Di  Rangkasbitung,  empat  orang  tokoh  utama PKI,  yakni  Tjondroseputro,  Atjim,  Salihun,  dan  Thu  Tong  Hin  ditahan  oleh Pemerintah  Hindia  Belanda  pada  akhir  bulan  September  1926 (Falah, TT)
[5] Sebagian  masyarakat  Cina  di  Labuan  dan  Menes  telah  menjual  senjata  dan amunisi  kepada  kaum  pemberontak.  Selain  itu,  ada  juga  orang Cina  yang  telah menjadi  pemimpin  terkemuka  PKI  Banten,  salah  satunya  adalah  Tju  Tong Hin yang bergabung dengan PKI Rangkasbitung. (Ibid)
[6] Boven Digul adalah sebuah kamp tahanan di Papua (id.wikipedia.org)
[7] Kebijaksanaan reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang (Re-Ra) guna membersihkan anasir komunis dari tubuh angkatan perang.
[8] Pada 18 September diumumkan melalui radio bahwa suatu pemerintahan Front Nasional yang baru telah terbentuk. (Ricklefs, 2005)
[9] Semaun dan Tan Malaka menyayangkan pemberontakan karena beranggapan PKI masih lemah dan prematur. Sebaliknya Alimin, Darsono mendukung karena merasa massa(bangsa Indonesia) mendukung gerakan PKI (Sudiyo, 2003)
[10] Hal ini mengakhiri karirnya sebagai pemimpin PKI yang berlangsung hanya delapan puluh hari (Op cit)
[11] Kekuatan pemerintahan seakan-akan tebagi menjadi tiga kubu, yakni Sukarno, PKI, dan AD
[12] Telegram yang ditemukan dikantor keduataan Inggris yang diduga dikirim dari atasannya, didalam telegram terdapat kalimat yang menyatakan ada “orang dalam” yang mendukung Inggris, yang diterjemahkan oleh Aidit sebagai Angkatan Darat (SNRI, 1994)

1 komentar:

aldy pradana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Poskan Komentar

Komentar sahabat blogger sangat berguna bagi perkembangan artikel (post) pada blog ini :)

Gunakan kotak komentar atas untuk pengguna Facebook dan Gunakan kotak komentar bawah untuk blogger ^^V