1 Jam berguru di PAUD

Penulis Toto Gutomo, pada 11 Jan 2012

Rintik kecil tak halangi putaran roda motor ini, melaju tembus air dari udara
Basah tak terasa olehku, hingga dingin bangunkan dari alam bawah sadar

Terpaksa singgah dan berteduh di PAUD tempat keponakan yang ingin saya jemput, tidak seperti biasa kalau jemput langsung antar ke rumahnya, sebenarnya bukan keponakan, Lala (4thn) namanya, anak dari pemilik rental komputer dan pengetikan dimana tempat saya mencari receh uang jajan. Hari ini saya dapat jadwal menjemputnya.
Lala
Kreek, pintu terbuka dan saya dipersilahkan menunggu (berteduh) di dalam oleh bu guru dengan senyum khas “guru PAUD”, lha wong setiap hari bertemu dengan anak-anak yang kecil-kecil dan imut-imut, ya harus senyum dong. Masuk saya ke dalam, dan mendapati kelas masih ramai mungkin karena hujan, beberapa anak belum dijemput orang tuanya.
Saya mencoba memasang wajah penuh senyum dan duduk di tempat yang disediakan. Tak lama saya duduk, datang seorang anak kecil perempuan imut, polos, tanpa rasa takut duduk di sebelah saya, mungkin kalau dia bersayap tak ubahnya seperti peri kecil dicerita-cerita dongeng.
Yap! Disini saya simpulkan kalau kita memasang wajah yang “bersahabat”, mereka tak akan sungkan dengan kita selaras dengan pesan Ibu Nana, seorang kepala TK di Banjarmasin yang bercerita kepada saya tentang pentingnya wajah ramah dalam mengajar. Begitu juga guru-guru di jenjang pendidikan yang lain (sekolah dasar dan menengah), kalau ngajar MUSTI ramah, pasang tampang yang friendly donk ah! Agar suana kelas nyaman dan tanpa ada rasa sungkan apalagi takut di antara kita.
Saya lanjutkan dengan “berwisata” mata, melihat sekeliling.. benar-benar terasa dunia anak-anak, disana-sini bertaburan pernak-pernik yang penuh warna, mungkin semua warna pelangi hadir disini, MeJiKuHiBiNiU.. atau bahkan lebih banyak lagi warna yang lain, potongan kertas nila dengan bentuk bintang, bunga, pemandangan, gambar poster hewan, pola huruf, cat dinding dengan berbagai warna, hingga alas dimana mereka berpijak pun penuh warna-warni dan ada pola hurufnya. Mereka nampak senang, sungguh atmosfer yang sangat sesuai dengan pembelajaran sambil bermain ini. Teringat sebuah tawaran konsep kelas untuk mata pelajaran Sejarah oleh S.K Kochar dalam bukunya Pembelajaran Sejarah yang menggambarkan dimana kelas sejarah se rame museum, dilengkapi dengan media dan tekhnologi yang mendukung, peta, gambar-gambar bersejarah, dan benda-benda miniatur/replika lainnya, sepertinya mas Kochar mencoba mengajukan sebuah konsep moving class, jadi ketika siswa belajar Sejarah maka akan masuk ke kelas Sejarah dimana atmosfer sejarahnya Kerasa Bangetz, begitu juga dengan mata pelajaran lain (moving class: kelas berpindah, jadi siswa yang berpindah ketika mata pelajaran berganti, seperti gambaran pendidikan di Singapura yang saya baca di Blognya pak Munif Chatib).
Yawdah, jangan dulu bermimpi tentang realisasi konsep moving class seperti ini, tilik saja kelas-kelas sekarang, boro-boro muncul atmosfer yang nyaman, yang ada malah gurunya membuat atmosfer yang gak enak banget deh, membuat siswa berbicara sendiri, smsan, melamun, hingga tertidur. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah siswa lho, kan gurunya juga yang kurang pandai (maaf) membuat atmosfer belajar yang nyaman, meski ada kalanya siswa tenang itupun karena merasa terancam/takut bukan karena atmosfer yang nyaman untuk belajar.
Belum selesai saya mengenang suasana kelas di kebanyakan sekolah kita sekarang ini, terdengar suara merdu guru menyanyikan sebuah lagu, anak-anak yang tadinya berlari-larian (susah ditegur, dan sering kita anggap nakal) berdiam sejenak mendengarkan lagu sang guru, menghayati lirik, kata demi kata hingga mereka mengerti lagu apa yang dinyanyikan sang guru, mereka tersenyum dan tertawa kecil, tak terasa sebagian menari-nari dengan iramanya masing-masing, guru tak perlu repot-repot menegur mereka yang tadinya berlarian, apalagi sampai memarahinya. Mereka berlari-lari tadi rupanya karena kurang perhatian dari sang guru, yup! Seperti anak yang tidur di kelas, biasanya duduk paling belakang yang guru “tak sempat” untuk memberikan perhatian kepadanya. Kebanyakan guru memang hanya mengajar sebagian dari siswa di kelasnya, tidak seluruhnya! Menurut mba Anita Moultrie Turner dalam bukunya Resep pengajaran hebat: 11 bahan utama yang merupakan edisi terjemahan dari Recipe for Great Teaching : 11Essential Ingredients (2007)
“Banyak guru hanya mengajar 5 – 10 anak di kelas mereka bukannya 25 atau 30! 20 atau lebih siswa duduk bermalasan dengan gelombang otak menunjukkan kecapaian akademik... tidak mendengar banyak hal yang didiskusikan karena anak jarang dilibatkan dalam partisipasi. Akan tetapi, guru hebat mengajar seluruh kelas. Ketika melaksanakan diskusi atau menyampaikan informasi, mintalah umpan balik dari tiap orang di kelas.”

Sayangnya tidak semunya guru menyadari hal ini dan mulai memperhatikan seluruh siswanya dalam kelas.
Kembali ke kelas di PAUD, guru yang sudah lelah bernyanyi menyebabkan anak-anak hendak berlarian lagi, mulai sedikit gaduh. Plap! TV menyala, sebuah film animasi edukasi yang didedikasikan untuk anak balita diputar. Kembali anak-anak duduk dengan tenang, hening, senyum kecil menghiasi wajah mereka. Penggunaan media yang pas sekali menurut saya, pas dan cerdas.



“Rintik hujan mulai lelah, langit tunjukkan wajah cerah
Aku berkata pada sang hujan, izinkan ku pergi
Matahari mengintip, ku bawa Lala pulang
Terimakasih PAUD, untuk semuanya...”

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar sahabat blogger sangat berguna bagi perkembangan artikel (post) pada blog ini :)

Gunakan kotak komentar atas untuk pengguna Facebook dan Gunakan kotak komentar bawah untuk blogger ^^V