Mengenal Buruh Karet di Binuang, Kab Tapin Kalsel

Penulis Toto Gutomo, pada 15 Jul 2011


Oleh: Toto Gutomo

Pendahuluan
Bertani mungkin adalah suatu pekerjaan yang dianggap menjanjikan sejak dahulu kala selain berdagang, selain itu bertani dianggap suatu pekerjaan yang mulia, menyediakan bahan pangan untuk masyarakat sekitar bahkan hingga ranah nasional/internasional. Dewasa ini bertani sudah tidak menjadi primadona, meski masih ada sebagain penduduk yang menjalani pekerjaan ini, sebagian besar hanya menjalaninya sebagai “sambilan”. Namun bagaimana dengan petani kecil yang memiliki modal kecil, berpendidikan rendah, dan tidak punya pekerjaan lain?
Petani yang memiliki modal kecil tidak jarang juga menjadi buruh pada lahan milik orang lain atau menjadi buruh[1]. Petani karet misalnya, yang hanya memiliki sedikit modal/sedikit lahan dan pohon karet tidak sedikit yang menjadi buruh di kebun karet milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Bertani karet memang bukan satu hal yang sangat menjanjikan, dibandingkan dengan batubara dan sawit, usaha ini masih dibawah kedua “rivalnya”. Dapat dilihat dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel pada Mei 2011 nilai ekspor batubara 3,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau tertinggi, kemudian hasil lahan kelapa sawit 362 juta dolar AS dan karet alam 102 miliar dolar AS[2].

Peluang Petani Karet
Melesatnya harga minyak bumi dunia akhir-akhir ini mengakibatkan harga produk-produk berbahan baku minyak bumi cenderung meningkat, seperti yang terjadi pada harga produk karet sintetis. Dengan demikian, harga karet alam sebagai barang substitusi juga terkatrol meningkat. Dalam 20 tahun mendatang diperkirakan permintaan komoditi karet alam akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara China dan India sebagai konsumen terbesar karet dunia[3].

Kabupaten Tapin Secara Topografis
Sebagian besar (67,34%) wilayah Kabupaten Tapin berada pada ketinggian 0-7 meter dpal, sangat sedikit (1,21%) yang berada pada ketinggian lebih dari 500 meter dpal, yakni di kawasan hulu sungai Tapin dalam wilayah Kecamatan Piani. Sebagian besar wilayah ini (83,55%) berada pada kelerengan 0-8% (kelas lereng datar), 5,14% lereng landai, 6,84% agak curam, dan 4,48% tergolong curam sampai sangat curam. Dari wilayah Timur (Kecamatan Piani) melewati kota Rantau (ibukota Kabupaten Tapin) sampai ke wilayah Barat (Kecamatan Candi Laras Utara) mengalir sungai Tapin sebagai sungai utama di Kabupaten Tapin.[4]

Buruh Karet di Binuang
Binuang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapin sebagai salah satu kabupaten sebagai sebaran petani karet di Kalsel.[5] Petani karet di Binuang terdapat di bagian pedalaman (tidak terletak di pusat keramaian/pemerintahan), namun lebih ke Desa-desa dan dikelola oleh masyarakat baik penduduk asli (suku banjar) maupun pendatang (suku jawa). Menariknya disini berlaku sistem bagi, yakni ada pemilik lahan dan ada buruh, namun dalam pelaksanaannya terlihat suatu hubungan yang erat dalam kekeluargaannya, tidak semata-mata hubungan kerjasama finansial.
Pada umumnya, buruh karet diberi tawaran pekerjaan oleh pemilik lahan yang tidak lain adalah tetangga dekatnya, namun letak kebun karetnya yang jauh dari lokasi penduduk, disini terjadi sebuah perjanjian yang mengikat namun tidak ada “hitam di atas putih”, semua didasari rasa saling percaya, menariknya lagi sistem pembagiannya adalah 50:50 tidak ada cingcong yang lain. Buruh karet menikmati hasil dengan jumlah yang sama, keuntungan yang dibagi rata, bekerja dengan perhatian layaknya keluarga, hal ini dapat dilihat dengan adanya kontrol perhatian dari pemilik lahan yang datang ke lokasi, bahkan membantu secara langsung dengan tenaga pada saat panen.

Menghadapi Masalah Bersama
Tidak pernah ditemukan hama yang menyerang kebun karet di Binuang, jarang juga ditemukan kebakaran lahan kebun karet di Binuang, namun ada beberapa ancaman yang mengancam petani juga buruh karet disini, hanya ditemukan dua ancaman yang sangat meresahkan petani dan buruh karet, antara lain Pencurian dan Turunnya harga karet, berikut adalah bentuk tindak lanjut ketika telah terjadi ancaman-ancaman yang tidak diharapkan:
1.      Pencurian[6]
Pencurian lum[7] makin marak terjadi di Binuang, mengingat  nilai jualnya yang tinggi lum juga bisa digolongkan sebagai barang berharga yang tidak luput dari pencurian. Menjualnya juga sangat mudah, mengingat sebagaian besar penduduk sekitar juga memiliki pekerjaan sebagai petani karet menjadikan “alibi” pencuri dan lum pun dapat terjual cepat.
Pencurian dapat dihindari dengan dijaga, biasanya penjaga kebun adalah buruh, namun tidak menutup kemungkinan pemilik lahan juga bergantian menjaga kebunnya. Ketika pencurian telah terjadi, buruh tidak dituntut apa-apa namun kerugian terasa pada keringat buruh yang keluar pada saat menyadap karet yang hasilnya telah dicuri.


2.      Harga Terjuan Bebas[8]
Seperti layaknya sebuah permainan ekonomi, bertani karet juga bisa mengalami pasang surut dengan naik-turunnya harga jual karet, suatu saat harga karet melambung hingga diatas 15.000 namun ada saatnya harga karet akan jatuh seperti “terjun bebas” hingga mencapai kisaran 4.000. Saat harga terjun bebas ini adalah seperti menghadapi “dilema yang begitu komplek” oleh buruh petani karet, satu sisi ini adalah pekerjaan utama, namun disisi lain penghasilan tidak mencukupi bagi keluarga yang mengandalkan penghasilan dari hasil menjadi buruh petani karet.
Ketika harga terjuan bebas, buruh petani karet yang tidak memiliki ikatan “hitam di atas putih” namun dengan asas kekeluargaan memilih untuk membicarakannya dengan pemilik kebun untuk memilih bekerja ditempat lain hingga harga stabil, yang biasanya maksimal mencapai 2 bulanan. Kondisi ini disikapi denga bijak oleh pemilik lahan yang membiarkan buruh untuk menjalani pekerjaan lain hingga harga kembali normal, disisi lain juga mengistirahatkan pohon karet agar bisa menghasilkan karet yang lebih banyak lagi nantinya.




Gambar Salah Seorang Buruh Karet di Binuang


[1] Pada masyarakat Binuang ada istilah “meambil upah” yang penulis sejajarkan dengan menjadi buruh pada suatu lahan milik orang lain
[2] Dirujuk dari http://www.kalselprov.go.id pada 28 Juli 2011
[3] Dirujuk dari http://www.bi.go.id/ pada 28 Juli 2011
[4] Dirujuk dari http://www.tapinkab.go.id pada 28 Juli 2011
[5] Di Kalsel, petani karet terdapat di tujuh kabupaten, yakni Tabalong, Tapin, Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS), Balangan, Banjar, dan Tanahlaut (Tala). http://banjarmasin.tribunnews.com/ pada 28 Juli 2011
[6] Oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan “maling lum” yang artinya pencuri karet yang telah di sadap/ diturih, biasanya pencuri beroperasi pada malam hari/ pada saat ditinggal oleh petani/buruh petani karet dan ditemui telah habis keesokan harinya.
[7] Lum adalah adalah karet yang telah disadap, disimpan dalam mangkuk kecil sebagai wadah kucuran getah pohon karet yang keluar, kemudian diberi cuka getah / pupukTSP.
[8] Harga terjun bebas ini terjadi karena kondisi pasar yang lesu, idealnya permintaan akan bahan mentah karet akan terus meningkat namun ada kalanya akan terjadi penurunan permintaan, misalnya pada saat Tsunami Jepang yang baru-baru ini terjadi mempengaruhi harga karet dan mengalami penurunan hingga pada kisaran 4.000, bisa saja alasan ini merupakan “akal-akalan” dari oknum yang ingin mengambil keuntungan dari isu yang berkembang dalam masyarakat yang melogikakan bahwa dengan adanya Tsunami di Jepang maka permintaan akan karet menurun drastis, karena Jepang merupakan negara Importir karet.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar sahabat blogger sangat berguna bagi perkembangan artikel (post) pada blog ini :)

Gunakan kotak komentar atas untuk pengguna Facebook dan Gunakan kotak komentar bawah untuk blogger ^^V